BSM BARU TEREALISASI Rp. 3,2 TRILIUN DARI JUMLAH KESELURUHAN Rp. 5,3 TRILIUN

Pemerintah kembali telah mendistribusikan Bantuan Siswa Miskin diseluruh Indonesia. dalam pencairan dana tersebut tertanggal 25 mei 2014. Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Muh Nuh) Menjelaskan dari jumlah siswa 9.185.414 siswa, sudah terealisasikan 6.221.822 siswa. Untuk Anggaran dari Rp 5,3 triliun, sudah terealisasikan Rp 3,2 triliun. target kurun waktu tahun pelajaran sampai bulan Juli nanti siswa anggaran yang belum terealisasi dapat terealisasikan semua.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh juga menjelaskan sasaran dan anggaran Bantuan Siswa Miskin dalam rencana kerja anggaran Kemdikbud pada rapat kerja dengan komisi X Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI), pada hari Senin (26/05/2014).
Siswa penerima bantuan (BSM) adalah  9.185.414 dengan anggaran sebesar Rp5,3 triliun. Sumber dana bantuan tersebut berasal dari KPS dan usulan dari pemangku kepentingan. Ditahun ajaran 2013-2014, Pemerintah mengkhususkan BSM untuk  siswa yatim-piatu dan siswa yang berasal dari panti sosial atau panti asuhan secara otomatis mendapatkan BSM di tahun 2014.
Sasaran penerima BSM tahun 2014:
1. SD sebanyak 6.040.491 siswa
2. SMP 2.169.890 siswa, 
3. SMA 425.033 siswa, 
4. SMK 550.000 siswa. 

Jumlah besaran bantuan :
1. SD sebesar Rp 450.000 per dua semester per tahun
2. SMP sebesar Rp750.000 per dua semester pertahun
3. sekolah menengah atas/kejuruan sebesar Rp1.000.000 per dua semester pertahun.

Mendikbud mengharapkan kepada direktur terkait untuk mencari terobosan-terobosan, sehingga serapan-serapan di provinsi yang relatif kecil bisa segera didorong. Sehingga dalam waktu dekat semuanya dapat diselesaikan.
Dengan jumlah dana BSM yang sangat fantastis ini Rp. 5,3 triliun semoga saja dana ini benar-benar terealisasi sampai pada yang benar-benar yang membutuhkan. semoga tidak ada acara sunat-menyunat dana bantuan untuk Siswa miskin ini, karena ini merupakan sebuah ketulusan Pemerintah dalam mewujudkan Kecerdasan Rakyat Indonesia, jadi jangan malah menjadi celah korupsi-korupsi baru.

PERTANYAAN SEPUTARAN KURIKULUM 2013 DAN JAWABAN YANG DIBERIKAN OLEH KEMDIBUD


Perkembangan Pendidikan Di Indonesia dengan beralihnya kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013 ternyata menimbulkan banyak pertanyaa. nah untuk kesempatan kali ini saya kutip beberapa pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh kementerian Pendidikan dan kebudayaan (KEMDIKBUD).
Kurikulum pendidikan di Indonesia akan drastis diubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun kurikulum baru untuk tahun 2013 mendatang. Rencana ini rupanya sudah digagas sejak 2010.

Alasan Kementerian: kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi hafalan semata.  
Perubahan ini diputuskan dengan merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah satunya adalah survei "Trends in International Math and Science" oleh Global Institute pada tahun 2007.
Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen.
Indikator lain datang dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang di tahun 2009 menempatkan Indonesia di peringkat 10 besar paling buncit dari 65 negara peserta PISA. Kriteria penilaian mencakup kemampuan kognitif dan keahlian siswa membaca, matematika, dan sains. Dan hampir semua siswa Indonesia ternyata cuma menguasai pelajaran sampai level 3 saja. Sementara banyak siswa negara maju maupun berkembang lainnya, menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6.
Satu kesimpulan dari dua survei itu adalah: prestasi siswa Indonesia terkebelakang.
Berikut wawancara selengkapnya:

Mengapa ada perubahan kurikulum?
Sebelum "mengapa", kita perlu bahas lebih dulu apa itu kurikulum. Bicara kurikulum itu pasti bicara empat hal. Pertama, standar kompetensi kelulusan. Kedua, standar isi. Ketiga, standar proses. Keempat, pasti kita bicara standar penilaian. 
Gampangnya, anak-anak mau kita harapkan bisa apa. Siswa SD kelas 1 itu bisa apa? Lulusan SMP bisa apa, SMA dan seterusnya bisa apa? Ini yang kita tetapkan dulu. Dari situ, lalu kita isi apa? Kita beri menu apa anak-anak ini.  
Tapi, tidak cukup dikasih menu saja. Prosesnya juga penting, bagaimana supaya makanan ini bisa ditelan atau diserap oleh sang anak dengan baik. Dalam proses itu ada metodologi, cara menyajikannya. Kalau bubur makannya pakai sendok. Kalau yang lain bisa pakai garpu atau tangan langsung. 
Itu belum cukup. Juga penting bagaimana cara mengevaluasinya, cara penilaiannya. Nah, kalau kita bicara kompetensi, ini yang ditekankan sekarang. Ada tiga ranah atau domain, yaitu dari sisi sikap atau attitude, sisi keterampilan atau skill, dan sisi pengetahuan atauknowledge. Kompetensi yang ingin kita capai adalah: tiga-tiganya harus masuk.
Itu definisi tentang kurikulum.
OK, lalu kenapa diubah?
Pertanyaannya memang mengapa kok diubah-ubah? Kayak kurang pekerjaan atau kebanyakan uang. Belum lagi pasti ada pro kontra, ganti menteri ganti kurikulum. Ini sudah kami timbang-timbang.  
Zaman ke depan itu berubah, lho. Kalau tidak kita lakukan perubahan sekarang, nanti kita akan memproduksi generasi yang usang, yang tidak cocok dengan zamannya nanti. Akibatnya, nanti jadi beban. Termasuk tidak terserap di ketenagakerjaan.
Harus kita lakukan perubahan, meski dengan risiko tidak populer. Daripada gara-gara kita sungkan, risikonya jadi lebih mahal. Kita tahu kurikulum sekarang ini tidak bisa diteruskan lagi. Nggak apa-apa lah nggak populer. Kalau mau selamat, saya diam-diam saja, pasti selamat. Termasuk soal Ujian Nasional itu, kalau mau dihapus, bisa saja dihapus. Orang pasti senang.
Tapi mengurusi pendidikan itu kan bukan soal orang senang atau tidak. Orang nggak senengnggak apa-apa, asalkan ada nalarnya, ada rasionalitasnya.
Apa kekurangan mendasar dari kurikulum sekarang? 
Pertama, zaman sudah berubah. Yang dibutuhkan adalah kreativitas. Kita butuh modal pengetahuan. Tapi, itu saja tidak cukup. Jadi harus ada unsur produktif, kreatif, inovatif dan afektif. Ke depan kita butuh anak-anak yang seperti itu. 
Sekarang sudah ada banyak keluhan. Anak-anak kita tidak kreatif. Kita hanya mengejar hafalan. Bahan pelajaran sedemikian banyak, anak dijejali terus.
Lha, apa ini harus dibiarkan? Ya, perlu kita ubah, kita perbaiki. Bukan berarti yang lama itu salah semua. Yang lama itu benar pada zamannya. Yang kami garap ini juga tidak ada yang berani garansi selama 20 tahun tak akan diubah lagi. Tidak ada memang di dunia ini, kurikulum dipertahankan sampai 30 tahun. Tidak ada. 
Jadi, akan berubah dari metoda hafalan ke nalar?
Yang berubah tentu di keempat elemen itu. Standar kompetensinya berubah, prosesnya dan materinya juga ada yang berubah. Misalnya dari sisi proses. Pendekatannya berubah. Kita ingin agar anak-anak jadi kreatif. Pertanyaannya, apakah kreativitas itu bisa dibentuk atau dibangun? Ada beberapa riset yang menunjukkan bahwa kreativitas bisa dibentuk melalui proses pendidikan. Salah satunya adalah penelitian di Harvard University tahun 2011.
Ada dua pertiga kesempatan membangun kreativitas melalui pendidikan. Sepertiganya melalui faktor genetik atau bawaan. Ini berbeda dengan intelegensia yang dua pertiganya karena faktor bawaan, sepertiga melalui pendidikan.
Idealnya, intelegensianya tinggi, kreativitasnya juga tinggi. Tapi, kalau intelegensia bawaannya rendah, kita bisa memainkan space creativity. Meskipun intelegensianya pas-pasan, kreativitasnya bisa kita manfaatkan.   
Bagaimana caranya membangun kreativitas? Tentu ada berbagai pendekatan yang bisa membangun kreativitas itu. Caranya, mulai kecil siswa kita biasakan untuk memanfaatkan inderawinya. Ajak mereka mengamati. Jadi, bukan main di wilayah kosong. tapi perlu masuk ke wilayah riil sehingga setiap kejadian terekam. Misalnya, apa yang ada di bulan sana? Kita ajak anak-anak melihat melalui teropong. Contoh lainnya sel. Kita bisa pakai mikroskop. Baru mereka bisa mengerti apa itu sel.
Ke depan, persoalan semakin kompleks, beda dengan 30-40 tahun lalu. Karena kompleksitas ini, butuh kemampuan yang lebih tinggi dalam berpikir.
Mengamati saja belum cukup. Anak harus dikembangkan kemampuan untuk bertanya. Karena dari bertanya itulah muncul rasa penasaran intelektual. Itu saja belum cukup. Siswa perlu kita ajari untuk berkemampuan mempresentasikan, mengkomunikasikan sesuatu, baik tertulis ataupun lisan. Oleh karena itu kita ajari bagaimana memformulasikan persoalan.
Oleh karena itu, struktur mata pelajarannya pun juga berubah. 
Seperti apa perubahan struktur mata pelajaran itu?
Struktur mata pelajarannya kita tata lagi. Pendekatannya pun kita ubah. Objek pembelajarannya kita tentukan. Pasti tentang fenomena alam, fenomena sosial, fenomena budaya.
Pendekatannya perlu diubah terutama untuk anak-anak SD. Anak SD belum bisa berpikir spesialis. Tidak usah anak SD, S1 saja masih belum spesialis. Doktor baru bisa tajam. Maka, anak-anak SD itu kita bangun kekuatan fondasi generiknya. Maka, pendekatan yang kita lakukan di pelajaran SD adalah tematik integratif. Kita menggunakan tema yang berintegrasi dengan berbagai macam. Misalkan tema hari ini tentang sungai, besok ganti jadi energi atau laut, gunung, apa saja. Di situ ada pelajaran tentang PPKN, matematika, kita integrasikan. 
Jadi anak sekolah SD nanti tidak membawa buku matematika atau buku bahasa Indonesia. Mereka akan membawa buku dengan tema-tema tertentu. Hari ini misalnya tentang lingkungan. Jadi pelajarannya tentang lingkungan. Jadi, berhari-hari bawa buku tentang itu saja. Di buku itu ada matematikanya, ada bahasa Indonesianya, ada pelajaran IPA-nya. Itu menarik buat siswa. Belajar jadi hidup.  
Jadi, mata pelajaran di SD nanti apa saja?
Agama, PPKN, bahasa Indonesia, matematika, seni dan budaya, olahraga dan pendidikan kesehatan. Itu mata pelajarannya. Tetapi meskipun ada nama-nama mata pelajaran itu, pendekatannya tidak belajar sendiri-sendiri. Diintegrasikan.  
Proses belajar di kelas seperti apa?
Biasa saja. Secara teknis biasa. Guru menjelaskan. Tapi, selalu pendekatannya adalah observasi sehingga tidak harus di dalam kelas. Anak-anak bisa diajak keluar kelas.  
Kenapa menurut survei kemampuan nalar siswa kita lebih rendah dibanding siswa Korea?
Itu jadi bahan introspeksi kita. Kita berangkat dari TIMSS 2007 (Trends in International Mathematics and Science Study). Nanti di tahun 2013 akan keluar hasil survei tahun 2012. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Makanya kenapa ini sangat penting, bahkan genting. Kita masuk pada fase penting dan genting. Karena itu harus segera diubah.
Kalau tidak, atau menunda satu tahun saja, ada 10 juta anak kelas 1 SD yang tidak mendapatkan kesempatan. Siswa kelas 1 dan kelas 4 itu sekitar 10 juta. Sayang anak-anak kita. Karena itu kita harus all out.
Uji publik yang direncanakan ini belum pernah ada dalam sejarah pembuatan kurikulum. Ini kita lakukan secara terbuka. Tapi sekali lagi kami mengajak agar pendekatannya saintifik, akademik. Jangan pakai pendekatan politik. Sudah ada 600 lebih yang memberi tanggapanonline, di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id. Di situ ada diskusi virtual. Silakan memberikan masukan. Silakan sempurnakan.  
Bagaimana implementasinya?
Ini perlu effort yang luar biasa. Kami siap diaudit. Ini semata-mata untuk kepentingan masa depan. Untuk implementasinya, kami punya beberapa skenario. Salah satu yang menguat adalah secara bertahap.
Jadi, mulai tahun depan kita mulai dari kelas 1 dan kelas 4. Kalau kita mulai dari kelas 6, anak-anak kan dari kelas 1 sudah menggunakan pendekatan yang lama. Tahu-tahu dikasih yang baru, ya nggak nyambung. Karena itu guru yang kita latih pun tidak semua, yang mengajar kelas 1 dan 4 saja.
Guru SD kan ada 1,6 juta. Kalau kita latih semuanya, untuk apa? Tahun depan kelas 1 dan kelas 2, lalu kelas 4 dan kelas 5. Yang kelas 4 kan sudah naik ke kelas 5. Sehingga yang kita perlukan selanjutnya kelas 2 dan kelas 5.
Kalau satu tahun mau diperpanjang lagi, baru kelas 3 dan kelas 6. Berarti, 3 tahun lunas untuk SD. Ada masa 3 tahun untuk menyiapkan itu. Tidak semuanya diselesaikan di 2012. Kami paham kemampuan kami, selain dari sisi pendekatan juga tidak pas. 
SMP dan SMA juga begitu.
Ini sudah kita siapkan semua. Kalau kita berpikir jernih, memang harus begitu. Karena keluhan soal metoda hafalan ini sudah lama.
Perubahan ini akan membawa hasil yang lebih baik?
Hasil pendidikan itu saya ibaratkan kotak. Bagaimana caranya kita menjadikan kotak ini jadi sebesar-besarnya? Bagi orang teknik gampang sekali: panjang, lebar dan tingginya ditambah.
Nah, jadi panjangnya kita tambah. Tahun depan, insya Allah sudah dimulai pendidikan wajib 12 tahun. Lebarnya juga kita naikkan. Ini lama anak-anak tinggal di sekolah, atau jam belajar. Konsekuensinya jam belajar bertambah, karena pendekatannya berubah. Tinggi kotak itu efektivitas. Ini kuncinya di kurikulum.  
Populasi usia produktif kita sekarang luar biasa besar. Warga berusia muda luar biasa banyaknya. Kalau tidak kita siapkan sejak sekarang, kasihan mereka. 
Pertanyaan : Bagaimana tentang uji publik kurikulum 2013 ini?
Mendikbud : Ini sesuatu yang baru, uji publik kurikulum. Sebelumnya tidak pernah ada uji publik. Jadi ini kita lempar ke publik. Tujuannya apa? pertama supaya publik tahu akan ada kurikulum baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki atauself-belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh memberi pandangan. Oleh karena itu paling gampang kita masukkan dalam web kitahttp://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.
Uji publik jalan terus ini. Secara umum tidak ada itu yang menolak. Rata-rata menyambut baik. Tujuan uji publik itu kan untuk penyempurnaan. Makanya bahannya kita upload, supaya publik mempelajari terlebih dahulu. Kalau ada yang komentar mata pelajaran kita kurang fokus, coba pelajari dahulu.
Waktu uji publik yang 3 minggu ini cukup. Tentang memilah masukan, itu teknis sekali. Akan dikelompokkan tentang kurikulum dan tentang implementasi kurikulum. Tentang kurikulum itu sendiri kan terdiri dari kompetensi lulusan, isi, proses, dan penilaian. Kira-kira dari 4 itu mana yang perlu ditambahkan. Dari masukan yang banyak tersebut, oleh tim pakar akan di-review. Tentu saja tidak semua masukan kita terima, kalau semua masukan kita terima itu berarti nggak mikir.
Pertanyaan : Bagaimana tentang kesiapan guru?
Mendikbud : Ujung tombaknya guru? Benar. Bagaimana jika guru belum siap? Kita siapkan! Dalam manajemen Pareto, itu kan ada prioritas, mencari mana lebih prioritas. Makanya kita prioritaskan mana yang penting terlebih dahulu. Implementasinya, kita siapkan skenario pentahapan. Tahapnya bisa kelas 1 SD, 4 SD, kelas 7, kelas 10 terlebih dahulu. Kalau itu kita lakukan, guru yang harus dilatih tidak sejumlah total guru, yang 3 juta. Misal guru SD saja 1,6 juta, yang kita latih sepertiga dari 1,6 juta itu, dikurangi guru agama, guru Pendidikan Jasmani, jadi cuma sekitar 300 ribu, itu masuk akal. Kita setiap tahun mengadakan sertifikasi sekitar 300 ribu.
Pertanyaan : Apakah bukunya berubah?
Mendikbud : Konsekuensi bukunya berubah. Apa tidak boleh mengadakan buku? Ya tentu harus! Asalnya yang penting: 1. Jangan dibebankan kepasa siswa atau orang tua siswa; 2. Di dalam pelaksanaannya pengadaan buku harus bisa dipertanggungjawabkan, transparan saja. Buku masternya kita siapkan, jadi bisa diuji isinya benar atau salah. Kemudian kita tender-kan, terbuka. Dan siapapun bisa mengawasi.
Dananya bisa dari dana alokasi khusus (DAK), yang memang tiap tahun ada DAK pengadaan buku. Dan juga dari anggaran kita sendiri. Estimasinya kita belum tahu. Berapapun anggarannya, mau 100 milyar 100 trilyun, asal bisa dipertanggungjawabkan tidak masalah.

Pertanyaan : Seperti apa pengajaran tematik-integratif?
Mendikbud : Misalnya guru menetapkan tema pelajaran hari tentang gunung, tentang diriku, tentang lingkunganku. Tema itu bisa berhari-hari diajarkan. Dalam tema itu ada Bahasa Indonesia, ada Matematika diintegrasikan. Contoh temanya sungai. Guru menceritakan tentang sungai dengan Bahasa Indonesia, diperkenalkan kosa kata tentang sungai, air, dan lain-lain. Kemudian ditanyakan, air di sungai itu mengalir atau tidak? kenapa? Di situ diperkenalkan ilmu pengetahuan alam. Bisa juga dikaitkan dengan budaya, bahwa di Bali dikenal ada Subak, tentang budaya pembagian air. Air bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Jadi pembelajaran itu bisa hidup. 
Pertanyaan : Bagaimana tentang blue-print kurikulum jangka panjang?
Mendikbud : Apakah kita bisa membuat kurikulum yang tidak berubah 50 tahun? Tidak ada ceritanya. Tidak ada ceritanya kurikulum yang 50 tahun tidak berubah, bahkan yang 20 tahun tidak berubah itu tidak ada.
Jaman itu berubah. Apa perubahan mendasar yang dibutuhkan di masa depan? Yang paling dibutuhkan di masa mendatang (termasuk sekarang juga dibutuhkan) yaitu kreatifitas. Ke depan kita butuh anak-anak yang kreatif.
Pertanyaan : Bagaimana pengembangan Kurikulum 2013 ini?
Mendikbud : Pengembangan kurikulum ini sudah ada dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Artinya apa? Kalau ada suatu dokumen RPJMN 2010-2014, ini artinya disusun tahun 2009, berarti 2009 sudah dievaluasi, 2010-2014 harus ada penataan kurikulum. Ini perintah RPJMN.
Dari sisi arah, sangat-sangat jelas. Arahnya adalah peningkatan kompetensi yang seimbang antara sikap (attitude), ketrampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Tiga ini harus dimiliki. Yang dirisaukan orang bahwa anak-anak kita hanya memiliki kognitif saja, ini yang kita jawab. Kompetensi nantinya bukan urusan kognitif saja namun ada sikap, dan ketrampilan. Kompetensi ini didukung 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Meskipun inovatif ini gabungan sifat produktif dan kreatif, namun kita taruh berdiri sendiri saja. Kalau seseorang produktif dan kreatif, tidak serta merta menjadi inovatif, tapi inovatif ini hanya bisa dibentuk kalau ada dua hal tersebut. Kalau ada beras ada ikan belum tentu otomatis bisa dimakan,tapi kalau tidak ada beras tidak ada ikan otomatis tidak ada yang bisa dimakan. Syaratnya ada beras, ada ikan.
Tentang afektif ini, kita ini rindu dengan kekuatan-kekuatan moralitas, sentuhan seni. Tentu saja dibingkai dengan ke-Indonesia-an.
Ini sesuatu yang baru, uji publik kurikulum. Sebelumnya tidak pernah ada uji publik. Jadi ini kita lempar ke publik. Tujuannya apa? pertama supaya publik tahu akan ada kurikulum baru, kedua publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki atau sense of belonging. Dalam partisipasi ini siapa saja boleh memberi pandangan. Oleh karena itu paling gampang kita masukkan dalam web kitahttp://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.
Apakah yang disentuh cuma mata pelajaran? Tentu saja tidak. Kalau kita bicara kurikulum, kita harus bicara 4 hal, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Proses ini berarti metodologi, atau pendekatan. Itu kurikulum keempat-empatnya, mata pelajaran hanya satu aspek saja, termasuk buku cuma satu aspek saja.
Yang pertama kita garap dalam penyusunan kurikulum adalah kompentensi apa yang akan kita capai. Anak kelas I SD diharapkan bisa apa, kelas V bisa apa, itu yang pertama ditentukan. Untuk ke situ apa yang harus dilakukan? Setelah kompetensi ditentukan, prosesnya harus ditentukan. Setelah itu cara evaluasinya harus ada, apakah sudah tercapai atau belum. Jadi perlu standar penilaian. Jadi mata pelajaran itu sesuatu yang kecil saja, suatu akibat saja.
Apa bedanya kurikulum yang dulu dengan yang sekarang? Kurikulum yang lama pun ada standar kompetensi, ada isinya, proses, dan penilaian. Dari situ kita review semua, sejak 2011 sudah kita review. Ketika ramai-ramainya PPKN, kita pelajari semua. Pendekatannya kita ubah. Kalau dulu mata pelajaran dulu ditetapkan, baru kompetensinya, sekarang kita ubah, kompetensinya dulu ditetapkan, baru menyusul mata pelajarannya.
Pendekatannya adalah scientific-approach, atau pendekatan ilmiah.
Pertanyaan : Mengapa kurikulum harus berubah?
Mendikbud : Yang paling mendasar, adik-adik kita didik ini untuk apa? Yang paling utama kan untuk mereka sendiri, yang nantinya akan kembali untuk keluarga,  bangsa, dan negara. Kapan itu? kalau anak sekolah sekarang, itu bukan untuk sekarang. Agar mereka bisa hidup untuk nanti. Jaman itu nanti berubah, jadi harus dimulai dari sekarang. Kalau kita tidak berubah kita akan menghasilkan generasi yang usang. Generasi yang akan menjadi beban, dan juga tidak terserap di dunia kerja.
Pertanyaan : Bagaimana tentang anggapan ganti menteri ganti kurikulum?
Mendikbud : Saya dihadapkan pada 2 pilihan: Apakah mempertahankan tidak usah ganti kurikulum biar ga dibilang ganti menteri ganti kurikulum, atau kedua tidak apa-apa ganti kurikulum asal ada landasan. Saya memilih yang kedua, ganti kurikulum nggak apa-apa asal punya pijakan. Kalau ini dilakukan, saya yakin kurikulum ini tidak akan berubah dalam 4 atau 5 tahun.
Kembali ke 4 pilar di atas, penelitian menunjukkan bahwa kreativitas bisa dibangun melalui pendidikan. Penelitian ini masih relatif baru, tahun 2011. Penelitian ini menunjukkan 2/3 kreatifitas diperoleh melalui pendidikan, sedangkan 1/3 karena genetik.
Bagaimana menumbuhkan kreatifitas? Anak-anak kita ajari mengamati. Manfaatkan indrawi untuk melihat fenomena. Tidak hanya mengamati, tetapi kita dorong untuk bertanya. Tidak hanya bertanya, tetapi harus sampai ke menalar. Dan nanti sampai ke mencoba, sampai ke eksperimen.
Makanya prosesnya kita ubah. Karena prosesnya berubah, makanya jam pelajarannya bertambah.
Obyek pembelajarannya adalah fenomena alam, fenomena sosial, fenomena budaya. Belajar apa saja, obyeknya pasti tiga hal tersebut. Pendekatannya kita gunakan tematik-integratif.
Anak-anak kecil itu kan belum bisa berfikir spesialis. Karena spesialis itu memerlukan basic yang kuat, makanya dari awal anak-anak kita ajari berfikir utuh. Generik, tapi generik-nya kita perkuat. Tidak pelajaran-pelajaran satu-satu. Tidak boleh anak-anak kecil itu kita ajari spesialis.  

Demikian beberapa pertanyaan yang telah dijawab oleh kemdikbud, semoga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam peralihan Kurikulum ini. 

GURU TIK SIAP-SIAP BERMETAMORFOSIS MENJADI GURU BK



Akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), memberikan sebuah solusi unutk para guru TIK dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, Pemerintah akan tetap menhapus mata pelajaran TIK walaupun seluruh guru mata pelajaran menentang penghapusan tersebut. Apakah solusi tersebut akan menjadikan sebuah solusi atau malah menjadikan sebuah masalah baru.

Mendikbud Mohammad Nuh Menjelaskan Kepastian penghapusan guru TIK. Kebijakan penghapusan mapel itu tentu akan berdampak kepada kurang lebih 7.000 guru TIK yang sudah mengajar saat ini. Selain itu juga ada ribuan mahasiswa calon guru TIK yang masih menjalankan studi.
Muh Nuh mengatakan penghapusan mata pelajaran TIK merupakan konsekuensi dari implementasi Kurikulum 2013. Meskipun sudah tidak ada lagi mata pelajaran TIK, Nuh menjamin hak-hak dasar para guru TIK tetap diberikan. Seperti gaji dan tunjangan profesi atau lainnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tetap menghapus mata pelajaran (mapel) TIK (teknologi informasi dan komunikasi) mulai tahun ajaran 2014/2015. Guru TIK tidak lagi mengajar di kelas, tetapi menjadi guru penyuluh atau bimbingan konseling bidang TIK.



Nuh menjelaskan sejumlah alasan terkait penghapusan mata pelajaran TIK itu. “Implementasi kurikulum baru ini tidak melaksanakan pembelajaran berdasarkan sumber daya yang ada,” katanya. Sehingga meskipun saat ini sudah banyak guru bidang TIK, Nuh tetap menghapus mata pelajaran TIK. Dia menegaskan tidak akan membebani siswa di luar kompetensi yang harus dimiliki.

“Kita sudah urai, sejatinya kompetensi siswa SD itu apa saja. Jadi tidak dilebih-lebihkan dan malah membebani siswa,” paparnya. Kemendikbud selama ini berkeyakinan bahwa TIK itu tidak perlu diajarkan secara khusus dalam mata pelajaran tertentu. Tetapi kemampuan TIK bisa diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Nuh menuturkan Kemendikbud sudah menyiapkan strategi untuk mengatasi dampak penghapusan mata pelajaran TIK itu. Aturan baru tentang guru TIK ini akan tertuang dalam Permendikbud. Saat ini Permendikbud tentang guru TIK itu masih dalam bentuk draf.

“Guru TIK bisa pindah menjadi guru mata pelajaran lain yang terkait. Tetapi tetap harus melalui pelatihan atau pendidikan tambahan,” katanya. Sehingga guru TIK yang migrasi ke mata pelajaran lain itu bisa mendapatkan sertifikat profesi sesuai mata pelajaran baru.
Alternatif lainnya adalah, Nuh mengusulkan guru-guru TIK itu bekerja seperti guru bimbingan konseling. Selama ini guru bimbingan konseling bekerja untuk memberikan pendampingan psikologi dan bimbingan kelakuan sisiwa.
Nah guru TIK yang nanti bermetamorfosis menjadi guru bimbingan konseling, tugas utamanya adalah pendampingan. Mereka akan mendampingi para guru dan siswa yang kesulitan untuk urusan TIK.

Meskipun berstatus sebagai guru bimbingan konseling bidang TIK, mereka tetap berhak mendapatkan tunjangan profesi. Syaratnya harus bisa mengejar beban kerja minimal membimbing 150-250 peserta didik per tahun, dalam satu atau lebih satuan pendidikan. Baik itu satuan pendidikan yang sejenjang, atau lintas jenjang. Bimbingan ini bisa dilakukan secara individual atau kelompok. Materi bimbingan mulai dari teknis penerapan TIK dalam pembelajaran, hingga norma-norma yang harus dianut ketika memanfaatkan kemajuan TIK. 

Demikian Penjelasan yang diberikan Kemdikbud dalam keseriusannya melaksanakan kurikulum 2013 untuk tahun pelajaran tahun pelajaran 2014/2015. Pemerintah tetap akan menghapuskan mata pelajaran TIK, Guru TIK akan bermetamorfosis menjadi guru BK (bimbingan Konseling). dengan metamorfosis tersebut apakah merupakan solusi yang tepat atau malah menjadikan sebuah masalah yang baru tentunya kita juga belum tahu. nah apakah pendapat anda tentang metamorfosis ini ??? 

PENGUMUMAN SNMPTN 2014 CEK DISINI

Hari ini akan diumumkan hasil seleksi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2014, bagi rekan-rekan yang mengikuti seleksi hari ini pasti merasakan harap-harap cemas apakah nama rekan-rekan masuk dalam daftar yang dinyatakan lulus. mungkin rekan-rekan hanya bisa berpasrah dan berdoa semoga nama masuk dalam daftar peserta yang lulus.
Dalam Seleksi SNMPTN 2014 kali ini Ganjar Kurnia sebagai Ketua Panitia SNMPTN 2014 menjelaskan, siswa jenjang pendidikan menengah yang paling banyak mendaftar SNMPTN adalah siswa SMA dengan jumlah 579.028 orang. Kemudian diikuti oleh siswa SMK sebanyak 113.592 orang, dan siswa MA sebanyak 84.916 orang. Sedangkan untuk sebaran pendaftar per provinsi, Jawa Timur menjadi provinsi dengan pendaftar terbanyak, lalu diikuti Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Nanggore Aceh Darussalam.
"Yang (pendaftarnya) paling sedikit di Papua Barat," ujar Ganjar saat jumpa pers di Gedung D Kemdikbud, Jakarta, (26/05/2014).
Universitas yang menjadi favorite pendaftaran SNMPTN kali ini adalah 
1. Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan jumlah pendaftar terbanyak, yaitu 73.272 orang. 
2. Universitas Gadjah Mada (62.875 orang), 
3. Universitas Sumatera Utara (60.308 orang), 
4. Universitas Diponegoro (57.527 orang), 
5. Universitas Brawijaya (56.900 orang).

Seangkan 10 program Studi yang menjadi favorite adalah :
1. Manajemen, 
2. Akuntansi, 
3. Teknik Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi/Sistem Informasi, 
4. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 
5. Hukum, 
6. Pendidikan Dokter, 
7. Psikologi, 
8. Ilmu Komunikasi, 
9. Farmasi
10. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 

Sekretaris Panitia SNMPTN 2014, Triyogi mengatakan, salah satu alasan prodi IPS menjadi prodi dengan peminat yang tinggi adalah karena siswa SMA dari jurusan IPA bisa mendaftar untuk prodi IPA dan IPS. Sedangkan siswa SMA dari jurusan IPS hanya bisa mendaftar untuk prodi IPS, tidak untuk prodi IPA.
Jumpa pers mengenai hasil SNMPTN 2014 juga dihadiri Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Djoko Santoso, dan anggota Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN), Herry Suhardiyanto. 

Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2014 diumumkan Selasa (27/05/2014), pukul 12.00 WIB. 
Peserta SNMPTN dapat mengecek hasil seleksi secara daring atau online melalui laman:
1. LINK 
2. LINK
3. LINK
4. LINK
5. LINk 

demikian informasi yang dapat kami berikan, semoga bermanfaat, kami ucapkan selamat bagi rekan-rekan yang lolos dalam seleksi SNMPTN 2014.

SM-3T ANGKATAN IV TAHUN 2014 MEMBUKA KESEMPATAN MENGAJAR BAGI PARA SARJANA PENDIDIKAN

 

Telah dibuka Penerimaan Peseta Program SM-3T Angkatan IV untuk Tahun 2014. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang para Sarjana Pendidikan terbaik untuk ikut maju bersama mencerdaskan indonesia melalui Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Angkatan ke-IV. Bagi rekan-rekan yang ingin mengabdikan diri lewat bidang Pendidikan, ini merupakan kesempatan yang sangat pas dan tepat. 
untuk itu mari kita simak arikel berikut ini 
Ikuti agenda rekrutmen berikut:

Formasi yang dibutuhkan
  1. Pendidikan Guru PAUD
  2. Pendidikan Biologi
  3. Pendidikan IPA
  4. Pendidikan IPS
  5. Pendidikan Sejarah
  6. Pendidikan Geografi
  7. Pendidikan Seni (Drama, Tari, Musik, Rupa/Kerajinan)
  8. Pendidikan Ekonomi/Akuntansi
  9. Bimbingan Konseling
  10. Pendidikan Jasmani
  11. Pendidikan Teknik Mesin/Teknik Otomotif
  12. Pendidikan Teknik Bangunan
  13. Pendidikan Teknik Elektro/Elektronika
  14. Pendidikan Tata Boga/Tata Busana/Tata Rias
  15. Pendidikan Sosiologi/Antropologi
  16. Pendidikan Guru Sekolah Dasar
  17. Pendidikan Luar Biasa
  18. Pendidikan Kewarganegaraan
  19. Pendidikan Bahasa Indonesia
  20. Pendidikan Bahasa Inggris
  21. Pendidikan Matematika
  22. Pendidikan Fisika
  23. Pendidikan Kimia
Persyaratan : 
  1. Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan identitas diri berupa KTP yang masih berlaku;
  2. Lulusan program studi kependidikan S-1 (bukan transfer) tiga tahun terakhir (2012, 2013, 2014) dari program studi terakreditasi yang sesuai dengan mata pelajaran dan/atau bidang keahlian yang dibutuhkan, dibuktikan dengan fotokopi ijazah yang telah disahkan (legalisasi). Khusus lulusan tahun 2014 yang belum memiliki ijazah dapat menggunakan Surat Keterangan Lulus (SKL) yang ditandatangani dan/atau diketahui Pembantu/Wakil Rektor Bidang Akademik.
  3. Berusia maksimum 27 tahun per 31 Desember 2014;
  4. IPK minimal 3,0 yang dibuktikan dengan fotokopi transkrip nilai yang telah disahkan (legalisasi);
  5. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
  6. Bebas dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN) dari pejabat yang berwenang;
  7. Berkelakuan baik yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang dikeluarkan oleh Polres/Polresta; dan
  8. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti Program SM-3T dan PPG, yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai 6000 rupiah
Bukti persyaratan nomor 1) s.d. nomor 8) dibawa pada saat tes wawancara.

Informasi Pendaftaran :
  1. Pendaftaran daring (online): 21 Mei – 15 Juni 2014
  2. Pengumuman hasil seleksi administrasi dan pengumuman jadwal tes online: 23 Juni 2014
  3. Tes online: 1 – 2 Juli 2014
  4. Pengumuman hasil tes online: 7 Juli 2014
bagi rekan-rekan yang memenuhi persyaratan silahkan daftarkan diri : 

BATAS WAKTU PERBAIKAN DATA TPP 31 MEI 2014


Kenapa sertifikasi kok belum keluar, apa lagi syarat yang kurang ? Kenapa sekarang ini ribet untuk pencairan sertifikasi?
jika ada pertanyaan yang muncul seperti diatas ada baiknya kita simak artikel dibawah ini :
Persyaratan untuk Menerima Tunjangan Profesi Pendidikan Berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah No.74/2008 tentang Guru meliputi :
1. Guru mengajar sesuai sertifikat pendidik, 
2. Melaksanakan beban mengajar minimal 24 jam/minggu, 
3. Sebagai guru tetap di departemen, 
4. Mengajar pada satuan pendidikan sesuai rasio minimal, 
5. Usia maksimal 60 tahun, dan tidak terikat sebagai tenaga tetap di instansi lain.
Para guru yang sampai saat ini belum mendapatkan SK tunjangan profesi pendidik masih diberikan kesempatan menginput data secara daring (online) hingga 31 Mei 2014. Belum turunnya tunjangan tersebut disebabkan berbagai hal di antaranya karena data yang belum lengkap atau perlu perbaikan data.
Kepala Seksi Penyusunan Program Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud, Tagor Alamsyah mengatakan “Memperbaikinya tidak sulit, tinggal kemauan guru. Kita tunggu sampai 31 Mei 2014,” Penjelasan ini disampaikan dalam acara Bedah Pengaduan Kemdikbud, di Hotel Harris, Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/5/2014) malam.
Tagor mengatakan, para guru dapat mengakses melalui salah satu laman berikut ini:



Kemudian guru memasukkan user id dan password untuk dapat menampilkan data individu guru berdasarkan DAPODIK (data pokok pendidikan).
“Setelah sekolah mengirimkan data online melalui aplikasi DAPODIK ke server pusat, maka guru dapat melihat status kebenaran data di Layanan INFO PTK yang berbasis website,” kata Tagor.
Guru kemudian dapat mengirimkan kembali hasil koreksi jika terdapat kesalahan. Hal ini hanya bisa dilakukan sebelum penerbitan SK tunjangan.
Tagor mencontohkan, beberapa data yang mungkin belum lengkap di antaranya adalah jenis PTK, pangkat golongan, masa kerja, gaji pokok, ijazah terakhir, sekolah induk, dan lain-lain.
bagi para guru yang belum mendapatkan SK tunjangan ada baiknya segera cek data PTK lewat link-link diatas, apabila ada data yang belum lengkap segera perbaiki data PTK kemudian langsung sinkron, karena limit waktu tinggal beberap hari lagi.


GURU HONORER SEBAGAI OEMAR BAKRIE



Sebuah kutipan yang sangat menarik untuk kita baca dan kita renungkan. Kutipan ini adalah sebuah inspirasi opini yang menyentuh hati, dan semoga dengan adanya tulisan ini pemerintah yang membaca juga bisa merenungkan betapa mirisnya kehidupan dibalik " GURU HONORER". Kutipan ini menurut saya menjadi sesuatu yang sangat mengenaskan. agar tidak penasaran mari kita simak kutipan ini secara bersama-sama :

Guru adalah sebuah profesi yang dianggap mulia, sampai-sampai seorang guru mendapatkan sebuah predikat " Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"Mulia karena memang menjadi guru adalah sebuah profesi yang bisa menentukan kemana generasi muda bangsa akan dibawa. “Dianggap” mulia, karena setidaknya saat ini sebagian guru mempunyai gaji yang layak sehingga dihargai masyarakat, tak seperti jaman Oemar Bakrie dulu, dimana gaji guru bahkan lebih rendah dari pada gaji kuli serabutan.

 Ada sebuah sisi lain dari profesi guru yang tetap tak sesuai dengan harapan, bahkan bisa dikatakan komedi kehidupan. Ya, sebuah sisi lain kehidupan guru yang disebut “GURU HONORER”. Sebuah kemuliaan yang tergerus oleh kenyataan. Kenyataan hidup, di mana mereka bekerja dengan tangung jawab yang sama mendidik anak bangsa, namun balasan yang mereka dapatkan tak lebih dari seorang peminta-minta, tak semua guru sudah meraih “kemuliaan” itu.

Pemerintah telah menetapkan seorang guru setidaknya harus lulus pendidikan Strata 1 (S1). Mereka yang memiliki cita-cita mulia itu, telah rela menunda segala asa yang lain selepas meninggalkan bangku sekolah untuk duduk kembali di bangku kuliah. Selama setidaknya 4 tahun, mereka telah bersungguh-sungguh belajar tentang seluk-beluk pendidikan. Meski bayang-bayang kenyataan pahit belasan tahun menjadi guru honorer terus menghantui hari-hari mereka tanpa bisa terelakkan.

Di Indonesia terdapat 2,9 juta orang guru, dan  900.000-nya adalah guru honorer. Artinya ada 900.000 orang yang memiliki cita-cita mulia, tapi realitas mengatakan hal yang berbeda. Sudah terlalu banyak kisah-kisah miris tentang seorang guru honorer, mulai dari yang bekerja di pinggiran hingga pedalaman, atau yang bekerja belasan tahun dengan gaji yang jauh dari harapan. Sepertinya jika semua cerita miris tentang guru honorer dituangkan dalam tulisan ini, maka tulisan ini tak akan pernah selesai.


Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2013 disebutkan bahwa total anggaran pendidikan mencapai Rp 345,335 triliun, dan untuk tunjangan profesi guru mencapai lebih dari 43 triliun. Pemerintah telah menetapkan alokasi dana APBN untuk sektor pendidikan harus mencapai 20%.  Jumlah tersebut bahkan lebih besar daripada alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang hanya mecapai 23 triliun atau hampir dua kali lipatnya.  

Menurut hemat penulis, daripada 43 triliun itu semuanya dijadikan tunjangan profesi (fungsional), alangkah lebih baik jika sebagiannya dialokasikan untuk memberi gaji layak bagi para honorer yang sudah bekerja bahkan hingga belasan tahun. Setidaknya berikanlah para “buruh negara” ini gaji yang layak selayak para buruh di pabrik-pabrik yang gajinya mencapai Upah Minimum Regional (UMR). Meski sekarang para guru honorer juga memperoleh tunjangan fungsional, namun jumlah tersebut tentu masih jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan gaji yang diterima oleh para Pegawai Negeri Sipil (PNS).


Semua kenyataan itu membuat kita patut bertanya, kehidupan guru honorer itu sebuah komedi atau tragedi???

Sepertinya kehidupan guru honorer itu bisa dikatakan sebuah komedi atau juga sebuah tragedi. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Tragedi, bagi mereka yang menjalani kehidupan sebagai seorang guru honorer, pada hakikatnya kehidupan ini adalah sebuah tragedi. Mereka bekerja sepanjang waktu, mencurahkan semua tenaga, pikiran, hingga uang dari saku mereka sendiri demi menjalankan tanggung jawab sebagai seorang guru dengan penuh kesungguhan. Namun, penghargaan yang nyaris tak ada membuat mereka terseok-seok menjalani kehidupan.

Apalagi yang lebih menyedihkan daripada kehidupan seorang guru honorer di negeri ini?

Ketika tanggung jawab yang berat mereka pikul, saat itu juga beban kehidupan menghimpit mereka. Banyak kisah miris tentang kehidupan seorang guru honorer yang bisa membuat kita menangis jika kita memang memiliki hati seorang manusia.

Salah satu kisah tragedi kehidupan seorang guru honorer, menimpa seorang guru honorer di derah Depok, di daerah yang tak jauh dari Ibu Kota Negara ini ada seorang guru yang sudah 15 tahun bekerja namun gajinya sangat jauh dari kepantasan.

Adakah diantara pembaca yang bisa menebaknya?



75 ribu (tujuh puluh lima ribu). Ya, 75 ribu rupiah, bukan 750 ribu rupiah. Tanpa bermaksud merendahkan profesi yang lain, gaji 75 ribu rupiah itu bahkan jauh lebih kecil daripada tukang memperbaiki ban bocor atau tukang memperbaiki ledeng. Padahal tanggung jawab mereka adalah memperbaiki kebocoran moral generasi bangsa, agar bangsa ini bisa tetap berdiri tegak di hadapan bangsa-bangsa yang lain.

Jika dibandingkan dengan gaji para anggota dewan yang terhormat, gaji guru honorer ini hanya 0,2 % dari para anggota legislatif yang mencapai 40 juta per-bulan. Tidak bisakah APBN itu diatur agar para guru honorer ini terlepas dari tragedi mengerikan ini? Tidak bisakah gaji ribuan anggota dewan mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat provinsi dan kabupaten ini dipotong dan diberikan kepada para pendidik yang mulia ini? Bukankah tanpa jasa dan dedikasi para guru ini tak akan ada yang namanya para anggota dewan dan pejabat tinggi Negara yang lainnya?

Jawabannya tergantung dari hati kita masing-masing. Tergantung dari para pemangku kebijakan. Tergantung dari para pejabat yang memimpin negeri ini. Tergantung dari presiden yang mengemban amanah dari ratusan juta rakyat di negeri ini.

Komedi, karena jika kita melihat potret kehidupan seorang guru honorer, kita seolah-olah sedang melihat sebuah parodi dalam kehidupan. Kenyataan lucu yang menimpa orang-orang yang berhati mulia.

Saking mulianya mereka bahkan tak tega mencari keadilan sampai turun ke jalan seperti yang para buruh lakukan. Bukan karena mereka tak mau mendapatkan keadilan, namun mereka tak punya waktu untuk dibuang. Mereka lebih suka menghabiskan waktu mereka untuk terus berkarya demi anak bangsa.

Adakah yang lebih lucu daripada kehidupan para guru honorer di negeri ini? Di saat mereka sebagai abdi negara harus patuh kepada Negara, mereka sama sekali tak mendapatkan penghargaan yang layak dari negara. Di saat mereka memiliki tanggung jawab yang sama, mereka tak mendapatkan keadilan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang sudah jadi pegawai negeri.

Kepada siapa lagi mereka harus mengadu? Kepada siapa lagi keadilan itu dapat dipinta?

Kita memang tak bisa seadil Tuhan Yang Maha Adil. Namun setidaknya kita dapat berusaha berlaku adil sebagai seorang manusia, sebagai khalifah di bumi Tuhan Yang Maha Mulia. Adil bukan berarti segalanya harus sama rata, namun berikanlah hak mereka sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan. Berikanlah para pahlawan tanpa tanda jasa ini sebuah kegembiraan atas pengabdian yang telah mereka lakukan.

Seluruh rakyat di negeri ini, termasuk para guru honorer yang masih dan akan terus berkarya bagi bangsa ini tentu berharap pemimpin selanjutnya akan mampu membawa angin perubahan bagi bangsa ini. Membawa perubahan bagi komedi yang menggelikan, dan tragedi menyakitkan dari kehidupan seorang guru honorer menjadi kehidupan yang penuh keadilan dan kemuliaan. Aamiin.


Sebuah ungkapan dan luapan hati yang sangat menyentuh, kalau saya bisa gambarkan ini merupakan syair lagu " Panggung Sandiwara" yang dinyanyikan oleh nicky Astria dan satu lagi " Oemar Bakrie " yang dinyanyikan dan diciptakan oleh Iwan Fals. Ini merupakan ungkapan hati salah satu tenaga Honorer yang mengabdikan diri untuk Pendidikan di Indonesia yang merupakan perwakilan dari ratusan ribu tenaga honorer yang ada di Seluruh indonesia.  Semoga dengan ungkapan yang dituliskan dan dipublikasikan ini bisa sampai kepada para Petinggi-petinggi negeri ini, agar bisa menjadi masukan dan wacana dalam menyikapi perjuangan para guru Honorer yang kurang dihargai dinegeri ini.









Sumber : http://www.siperubahan.com/  
Oleh      : Asep Nuryadin

LIHAT JUGA INFO INI

Powered by FeedBurner

DN Webs weblinkexchange.ownpeg.com

Designed By Seo Blogger Templates
//add jQuery library